Penikmat Hidup
September 22nd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar
-Sewaktu kita main remi,
Tuhan tersenyum simpul seraya berkata: “Ceki!”
Suatu kali, pada suatu dini hari -saya lupa tepatnya kapan, seorang kawan, Ari, yang baru saja kembali dari Perancis karena liburan musim panas, berbagi wiracarita tentang pengalaman serta berbagai hal yang ia jumpai di sana. Tentu saja juga dengan iringan berbagai pertanyaan dari saya. Ia bercerita panjang lebar dan detail dengan tipikalnya yang khas: sedikit berbuih-buih. Harus saya akui kalau dia memang pencerita yang yahut –apalagi kalau sedang berbicara dengan dan tentang perempuan (Gak ada matinya dah!).
Sejauh yang saya tangkap, pada intinya ia berkisah keluh perihal kegagapannya untuk beradaptasi dengan bahasa dan budaya di negeri Napoleon tersebut. Mulai dari musim dingin yang memaksanya belajar di bawah tekanan suhu yang nyaris nol derajat celcius, orang-orang Perancis yang terlalu sombong untuk berbahasa Inggris, rokok yang harganya selangit, makanan yang aneh dan membuatnya tak berselera sehingga menurunkan berat badannya 10 kilo (Bukankah itu bagus untukmu kawan?), dan teman-teman dengan rasa persahabatan yang tak kasat mata.
Rasa pertemanan yang tak kasat mata? Hmm..Saya jadi bertanya-tanya mengenai hal ini. Ia kemudian bertutur tentang sulitnya mendapatkan sebuah keintiman dengan teman-teman barunya itu, yang tidak hanya berasal dari Indonesia saja melainkan berbagai penjuru dunia, sebagaimana ia peroleh dari kawan-kawan lamanya di sini. Tak ada gojek kere alias senda gurau proletar. Tak ada keguyuban dan nyanyi bersama ala taman kanak-kanak dengan iringan gitar bolong. Alhasil, semuanya terkesan serius, kikuk, dan kaku.
Namun bukan Ari namanya kalau semuanya itu melulu kikuk dan kaku karena, tentu saja, masih ada beberapa cerita seru dan saru dengan teman-teman barunya itu. Menyadari hal tersebut, dengan bijak ia belajar seraya menarik kesimpulan bahwa: “Saya mulai memahami dan harus mulai membiasakan diri dengan dunia baru ini. Beda manusia beda budaya berikut karakter-karakternya,” begitulah kira-kira yang saya tangkap.
Tapi tetap saja pemahaman tersebut tak bisa menghindarkannya dari sebuah kesepian yang hebat. Terlampau dasyat barangkali!
***
Jujur saja, alih-alih menyimak dengan seksama buih-buih ceritanya yang mengalir dengan deras mirip air pancuran itu, sebenarnya, ketika sampai pada poin rasa pertemanan yang tak kasat mata, pikiran saya mulai keluar jalur untuk mengikuti laju kisahnya tersebut. Sekonyong-konyong saya teringat teman-teman sepermainan kami yang sampai saat ini tetap menjaga keharmonisan yang telah terjalin sejak masa SMA dulu -meski beberapa ada yang dikenal baru pada masa kuliah. Dan, keharmonisan itu jugalah yang menjaga kami untuk sama-sama tertahan sedikit lebih lama di bangku kuliah: “mahasiswa bangkotan”.
Bayangkan betapa mapannya kami dengan itu semua. Di saat teman-teman kami yang lain telah melalang buana untuk berziarah ke tempat-tempat yang baru dan menjumpai berbagai liku manusia-manusianya: seperti Ari yang telah sampai ke negeri anggur, Dadik yang mulai menekuni hobi memancing di Gorontalo, Nanda yang menginjakan kakinya di ranah pusat pemerintahan sebagai tukang audit negara, Nipeng yang dengan berat hati meninggalkan anak istrinya untuk bekerja di perusahaan sawit, Gona yang mencoba peruntungannya jadi petugas Kejaksaan di daerah tempat hilangnya pesawat Adam Air, Majene, Andre yang memutuskan banting stir untuk bekerja di sebuah Bank dan rela menanggalkan gelar sarjana hukumnya, Kebo yang kini entah berkubang dimana dalam lumpur kebohongannya, Tondi yang sudah mulai ancang-ancang untuk angkat kaki ke Jakarta menyusul Hudoyo yang semakin kurus karena jarang tertawa di sana, dan masih banyak lagi yang tak mungkin diurai satu persatu di sini, kami justru masih tetap saja bergelut dengan dunia yang itu-itu juga (Loe lagi, loe lagi!). Kami masih asyik masyuk ketawa-ketiwi sambil main remi; sekedar menenggak sejumput bir dan sejenis wedang liyut kelas kambing; main futsal meski orangnya semakin berkurang dan itu-itu juga; nongkrong kesana kemari tanpa tujuan yang jelas sambil saling meledek satu sama lain. Walhasil, kami juga masih sama-sama suka bangun siang -bahkan jam tidur kami kadang mirip-mirip jam tidur bayi.
Ya, kami –termasuk saya- adalah penjaga cerita “kejayaan masa lalu” yang tak pernah letih bernostalgia: “Penganut Romantisisme” yang akut. Kalau meminjam istilah Chairil Anwar, kami barangkali adalah binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang. Namun, saya lebih suka untuk menyebutnya sebagai “Angkatan terakhir” dari gerombolan yang kini semakin tercerai berai. Apakah kami tak pernah merasa bosan dengan kebekuan ini?
Barang tentu kami tak menyangkalnya: sesekali kami pernah merasa bosan, terkekang seperti dalam penjara. Kalau sudah begini, biasanya kami akan menatap sebuah masa depan yang suram, kabur dan tak jelas. Muncul berbagai kecemasan dan ketakutan yang memang cukup beralasan: mau jadi apa, mau kerja dimana dengan nilai yang cuma segini dan masa kuliah yang hampir sama dengan SD, mau nikah kapan? –selak tuwo, selak menepouse bojone dab! Belum lagi, perasaan bersalah terhadap orang tua karena mengabaikan harapan mereka. Terjadilah kemudian apa yang disebut sebagai “Mental Disruption”. Akhirnya, Jogja akan terasa sebagai rumah yang sempit, tiap sudutnya adalah gang buntu yang sesak. Sebegitu menyedihkankah kami, angkatan terakhir?
Jawabnya: tentu saja tidak. Kok bisa? Ini semua karena kami menyadari bahwa perasaan semacam itu juga merupakan bagian dari “kebekuan” kami. Saat seperti itu, biasanya kami jadi agak serius: kami berpikir bagaimana caranya melenyapkannya dengan cepat? Dan, aha! Tak perlu berlama-lama untuk menemukan solusinya: ya main remi lagi saja, pergi ke angkringan depan KR, tugu, warkop terdekat lagi untuk sekedar minum kopi sambil menelanjangi gadis-gadis yang layak untuk ditelanjangi dalam pikiran kami, main sepeda lagi keliling-keliling alun-alun kidul sampai kepala kami pening, pergi ke CK untuk beli bir lalu mencela harga-harga yang semakin melonjak (perasaan waktu dulu g semahal ini deh!), main plesetan sampai lidah kami keseleo atau ketawa-ketiwi gak jelas hanya karena salah satu di antara kami tertawa lebar terpingkal-pingkal (saat-saat seperti ini saya menyepakati kalau hidup itu sungguh absurd!).
Intinya, kami berusaha untuk berlari menghindari kejaran logika hidup yang sempit dan picik, yang memacu manusia-manusianya untuk bersaing satu sama lain dalam ruang yang tak lapang, saling telikung dan jegal kalau perlu. Ringkasnya, kami menikmati apa pun yang ada di hadapan kami: mensyukuri semuanya selagi masih bisa tersenyum, tak lebih! Kami tak begitu berambisi untuk memiliki rumah mewah seperti di Casa Grande, mobil sport seperti yang ada di formula 1 atau jabatan tinggi hingga semua orang akan menundukan kepala ketika berpapasan dengan kami. Sungguh, kami tak dipenuhi ambisi-obsesi semacam itu walau kadang hal-hal itu menjadi obrolan kami di sesi mengkhayal. Bagi kami, mimpi-mimpi menggenggam dunia sebagaimana laki-laki pada umumnya yang keranjingan dengan “kekuasaan” seperti Napoleon dan Hitler maupun hasrat narsistik untuk terkenal dan populer seperti Kurt Cobain dan Agnes Monica hanya jadi dagelan sesaat kami ketimbang bengong.
Sesederhana itu? Ya, karena bagi kami, hidup ini sebagaimana diungkapkan dalam falsafah Jawa, “Sangkan Paraning Dumadi”: “mung mampir ngombe!” Oleh karena itu, pembahasan mengenai masa depan dalam keangkuhan rasionalitas yang centang perenang sebagai suatu kenicyaan adalah sia-sia. Kesadaran akan kenyataan inilah yang membawa kami untuk menjalani hidup dalam kontingensi, ruang hampa yang penuh kejutan. Menjalani dan menerima semua apa adanya tanpa tedeng aling-aling justru membawa kami pada suatu “kenikmatan hidup”.
Dengan demikian, kami tak menyangkal bahwa kamilah mahasiswa bangkotan itu, penganut romantisme yang akut itu, angkatan terakhir atau binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang itu. Akan tetapi niscaya kami jugalah para penikmat hidup itu (ini!). Dan, bagi kami, para “Penikmat Hidup”, mungkin hidup ini tak lebih dari sekedar permainan kartu remi yang sering kami mainkan: tiap orang akan punya kesempatan untuk ceki dan menutup satu ronde permainan dengan kemenangan. Semua ada waktunya, asal kita bisa menikmati permainan itu sendiri. Tak perlu khawatir!
Dan, hidup ini terlalu nikmat kalau hanya untuk dihujat.
***
Ari mendengkur kecil. Ia sudah tertidur pulas dengan bertopang kaki dan tangan terlipat di dada, mungkin ia sudah terlalu lelah untuk bercerita lagi. Ia terlihat begitu menikmati tidurnya meski udara pagi terasa dingin. Musik dangdut ‘pantura’ dari kafe sebelah sudah tak terdengar lagi. Setelah membolak-balikan buku Sejarah Tuhan yang sampai saat ini belum selesai kubaca, aku pun memejamkan mata. Ah, tenang dan sunyi sekali rasanya: terlampau sepi barangkali…