Peta Cita-Cita!

September 22nd, 2010 § Tinggalkan sebuah Komentar

Siang yang mendekati sore ini terasa panas. Maklum ini memang musim kemarau. Peluh yang bulir-butirnya lebih besar dari air mataitu tampak mencuat di wajahnya. Seragam sekolah yang masih baru itu pun tampak basah oleh hujan keringat yang cukup lebat. Musim kemarau dan musim penghujan memang tak ada bedanya: sama-sama membikin basah pakaian.

Ya, ini adalah minggu pertamanya di bangku SMA. Dengan sedikit keberuntungan ia berhasil di terima di sekolah negeri satu, yang terbaik dan yang paling tua. Dan, ia pun sudah lama mengangan-angankan saat-saat ini. Dulu, sewaktu masih mengenakan seragam putih biru dengan celananya yang pendek dan agak ketat itu, ia selalu membayangkan betapa akan menyenangkan menggunakan seragam putih abu-abu dengan celananya yang panjang.Orang tak akan lagi menganggapnya sebagai anak-anak. Termasuk juga kernet angkutan umum, baik bus atau mikrolet yang selama ini sering mengabaikannya hanya karena ongkos yang hanya separuh dari tarif anak sekolah. Ia pun berkata pada dirinya sendiri bahwa setelah ini, ia tak akan pernah terlambat lagi datang ke sekolah. Ia juga berjanji jika ia akan belajar dengan sungguh-sungguh. Awal perubahan memang dipenuhi oleh gelora.

Namun tiba-tiba ia terpekur. Gelora itu mengingatkannya pada tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia, PakMochtar: membuat sebuah karangan yang bercerita tentang cita-cita. Tugas itu diberikan dua hari yang lalu. Ia hampir saja lupa. Panjang minimalnya satu halaman folio. Boleh diketik, boleh juga tidak. Terserah. Dan, tugas pertamanya itu harus dikumpulkan lima hari lagi, terhitung dari sekarang.

“Aih, masih ada lima hari,” ia menjentikan jarikirinya.

“Masih banyak waktu. Santai sajalah, tak perluterburu-buru,” ia berkata pada dirinya sendiri seperti berusaha menenangkanpikirannya yang memang tak bisa tenang menghadapi sebuah tanggung jawab.

Sekonyong-konyong ia sadar jika tak bisa menganggap tugas itu sebagai hal yang remeh dan temeh. Lekas ia teringat pada dua hal tentang Pak Mochtar yang saling berhubungan satu sama lain yang bagai buah dan bijinya itu. Yang pertama ialah cerita mengenai Pak Mochtar yang populer nan legendaris. Menurut kabar yang beredar, yang ia dengar dari salah seorang kakak tingkatnya, yang juga teman kecilnya, Ari, Pak Mochtar yang berkumis tipis ala pendekar film kolosal layar lebar itu adalah guru yang disukai sekaligus disegani oleh murid-murid di sekolahnya.

Ia, yang sudah bertugas menjadi guru selama satu dekade, disukai karena sering membela dan membantu murid-murid. Suatu kali, ia pernah membela segerombolan murid yang dimarahi guru karena kedapatan membolos. Ia anggap kenakalan siswa-siswi itu sebagai sesuatu yang wajar dan bukan hal yang harus ditangani dengan kekerasan melainkan dengan pendekatan serta pertemanan.Tak perlu hukuman yang berlebihan. Di hadapan guru-guru itu, ia sering berkelit bahwa dulu ia jauh lebih nakal dan bebal dari pada murid-murid itu. Ia juga disenangi karena perhatiannya yang dalam pada tiap anak didiknya. Bayangkan saja, bagaimana bisa ia hafal semua nama, wajah, dan kemampuan bahasa murid-muridnya satu persatu. Di luar kepala pula!

Sementara itu, Pak Mochtar disegani karena ia tak akan sungkan untuk memberi nilai merah pada siswanya yang tak cakap dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Soal ini, ia memang guru yang galak dan terus menyalak pada mereka yang berada dalam bahaya karena tak menghargai bahasa ibunya sendiri. Baginya, Bahasa Indonesia adalah salah satu pusaka ilmu pengetahuan: tanpa menguasai bahasa, mustahil ilmu lain akan dapat dikuasai.

Yang kedua ialah kata-kata Pak Mochtar yang didengarnya sendiri sesaat sebelum kelas bahasa pertamanya berakhir dua hari yang lalu. Kata-kata itu serta merta menghadirkan kembali sosok Pak Mochtar dalam benaknya, juga dengan suaranya yang tegas tapi parau karena flu itu:

“Jangan anggap ini sebagai sesuatu yang enteng karena ini tak seringan kerupuk ikan yang keriuk-keriuk sewaktu kalian makan. Ini bukan hanya soal menulis atau mengarang saja melainkan suatu upaya jujur untuk mengenali diri kalian sendiri. Mengetahui jati diri kalian.”

“Dan, ingat! Ini bersangkut-paut dengan masa depan kalian. Ini harus dipikirkan dengan masak. Kalian semua harus tahu apa yang kalian inginkan. Setelah mengetahui apa yang kalian inginkan maka serta merta akan muncul keberanian untuk mewujudkannya. Tanpa cita-cita, asa, mimpi, orang tak ada bedanya dengan binatang! Karena cita-cita, asa, dan mimpi itu akan membikin huruf ‘a’ di antara huruf n dan t dalam kata binatang, menjadi “alpha”alias hilang! Oleh sebab itu, dengan memiliki mimpi kalian akan menjadi bintang bukannya binatang!”

Alamak! Ia ingat persis kata-kata itu yang kini semakin menggema dalam pikirannya. Ucapan Pak Mochtar itu seperti bedug adzan yang bertalu-talu lima waktu dalam sehari. Pikirannya jadi merinding. Kelu. Nyalinya pun ciut berbau kecut. Ia merasa tersudut pada sebuah jalan buntu. Ketakutan itu kemudian merubah sosok Pak Mochtar dalam pikirannya. Dari yang aslinya berwajah rupawan berubah menjadi garang. Pak Mochtar kemudian berlari mengejarnya sambil menggenggam sebilah pisau. Siap menikamnya. Dalam imajinasi dadakan itu, sosoknya juga berubah! Ia sebagai seekor ayam. Mungkin rasatakutlah yang menghadirkannya sebagai seekor ayam dalam khayalan itu. Ia juga tak lebih dari seekor ayam karena tak punya cita-cita.

Dalam ketakutan itu, pikirannya berputar-putar, melonjak kesana-kesini, berlari kemana-mana ibarat bola pantul dalam ruang sempit. Pikiran itu berteriak dengan suara batin yang pekak.

“Ayamayam ayam ayam ayam..maya maya maya maya maya maya..ayam ayam maya maya ayamayam maya maya..ayam maya ayam maya ayam maya ayam….”

Peluhnya semakin deras bercucuran bagai air pancoran. Seragamnya pun semakin kuyup dengan warna putih yang meredup. Ia begitu gugup. Ternyata masa SMA tak seindah yang ia bayangkan. Dan, ia jadi bertanya-tanya pada ungkapan lama yang sering didengarnya: “Masa yang paling indah adalah masa-masa di SMA.” Sebuah kalimat pendek terpetik dalam pikirannya:  So what ayam?

***

Sore harinya, Salman menemui Udin, teman karibnyadi lingkungan rumah. Mereka sempat satu sekolah sewaktu SD dan SMP. Namun kinimereka terpisah. Udin memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Sekolah TeknikMesin (STM) swasta yang usianya baru seumur balita karena tergiur olehiming-iming bebas biaya. Salman bertemu Udin di kandang kambing. Salman ingin mengetahui pendapat Udin soal cita-cita juga apa mimpinya. Siapa tahu Udin bisa memberi inspirasi untuk tugasnya. Sore-sore begini, memberi makan kambing memang sudah jadi kewajiban Udin sejak kecil.

“Din, apa kau sudah mantap masuk STM?”

“Mantep gak mantap,”

“Maksudmu?”

“Ya, mau bagaimana lagi. Toh aku sudah mendaftar dan menjadi siswa di sana.”

“Apa kau yakin kau akan menyukai mesin-mesin?”

“Kau tahu sendiri kalau aku masuk STM karena bebas biaya. Lagi pula, buat orang udik macam kita ini, sekolah di mana pun hasilnya sama saja. Kalau hasilnya sama saja bukankah rugi kalau harus mengeluarkan biaya lebih besar. Paling-paling aku akan menggantikan ayahku jadi petani dan peternak. Sementara kau, kau akan meneruskan usaha dagang keluargamu di pasar. Soal mesin-mesin, aku tak tahu apa aku akan menyukainya seperti aku menyukai kambing-kambing ini.”

“Kau terlalu pukul rata Din. Tidak melulu hasilnya begitu. Biar bagaimanapun pendidikan akan membawa kemajuan, perubahan: ke arahyang lebih baik tentunya. Kau bisa tengok bagaimana anak mantan Pak Lurah bisa sukses di kota berkat pendidikan.”

“Kau terlalu naif dan tak paham rupanya, Man. Baiklah, begini aku jelaskan padamu. Sampai saat ini, bangsa kita sudah merdeka lebih dari setengah abad, kenyataannya, desa kita ini tetaplah udik sejak awal didirikan empat dekade silam. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung ini, sejakkita kecil, tak pernah berubah termasuk suara jangkriknya. Jalan-jalan yang menghubungkan desa kita ke kota mungkin sudah ditakdirkan menganga, berlubang di mana-mana. Listrik pun selalu byar pet tiap duahari sekali mirip lampu disko. Orang-orangnya tak pernah bertambah. Sejauh ini semua anak muda di kampung ini sudah mengenyam pendidikan meski rata-rata berjenjang rendah dan hasilnya cuma bisa baca tulis. Mereka yang selesai bersekolah dan mencoba peruntungannya di kota atau luar negeri lebih banyakyang sial ketimbang berhasil. Rata-rata mereka menyimpulkan: biar bagaimanapun hidup di desa lebih enak ketimbang di kota. Kalau pun sukses, mereka tak akan kembali lagi ke sini, seperti anak mantan Pak Lurah itu. Lantas, apa ini yang kau sebut kemajuan, perubahan ke arah yang lebih baik, Man?”

“Wah, bicaramu melebihi usiamu Din. Bicaramu juga panjang lebar, mirip penjual obat keliling menawarkan dagangan. Dari dulu kau memang orang yang serius meratapi nasib.”

“Ah, itu cuma hal yang sering aku dengar dari ayahku. Nasib memang ada di tangan kita Man, tapi kalau begini kenyataannya, kita tak pernah benar-benar memilikinya.”

“Jangan terlalu pesimis, Din. Di samping itu, tiap orang juga punya keberuntungannya masing-masing. Memang apa sebenarnya cita-cita atau mimpimu?”

“Cita-cita, mimpi?” Kalimatnya terhenti dalam nada tanya yang tinggi. Udin tergelak. Tak lama kemudian ia meneruskan kata-katanya.

“Tak layak kau ajukan pertanyaan itu padaku. Aku ini bukan orang yang suka bermimpi atau bercita-cita. Aku ini orang yang realistis dan apa adanya. Ibaratnya, aku ini cuma nelayan pencari ikan bukan pelaut yang mengarungi samudera untuk menemukan pulau-pulau baru, kehidupan baru.”

“Seandainya Din, seandainya kau bukan orang yang realistis, apa cita-citamu?”

“Kau memang suka berandai-andai, Man. Perandaianmu itu memaksaku, dari nelayan menjadi pelaut. Biar begitu, aku tetap tak tahu, Man. Tak punya gambaran. Aku tak tahu arah mana yang harus kutuju. Aku tak punya peta. Tanpa peta, Man, tetap saja aku nelayan bukannya pelaut.”

“Barangkali kau memang ditakdirkan bersama kambing-kambing ini Din,” Salman terkekeh meledek. Kambing-kambing di dalam kandang pun ikut mengembik.

“Kurang ajar kau Man. Kau memang anak kaleng. Bicaramu cempreng!”

“Cempreng-cempreng begini aku adalah teman yangpaling memahamimu Din.”

“Sialnya, itulah kenyataannya, Man.”

Salman dan Udin tertawa. Sementara itu,kambing-kambing kurus itu tak lagi mengembik, mungkin karena perut mereka kenyang dan mulut mereka sibuk mengunyah rumput-rumput yang sedikit kering karena kemarau. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang. Tanda hari telah berganti. Sore itu pun berlalu. Pertanyaan tentang cita-cita masih juga bergema dalam pikiran Salman layaknya adzan maghrib yang menghantarkan mereka berdua pulang ke rumah masing-masing. Sampai rumah, matahari telah benar-benar pergi. Dan, bulan mengintip dari kejauhan.

***

Beberapa hari berikutnya, tepatnya pada hari Minggu siang, aku masih belum tahu apa yang akan aku tuliskan. Terus terang, aku masih kebingungan. Pekerjaan rumah dari Pak Mochtar pun terbengkalai layaknya seragam sekolah yang belum kuseterika padahal besok tugas itu harus segera dikumpulkan. Ini tidak bisa berlama-lama dibiarkan. Harus segera kukerjakan. Kalau tidak tugas itu tak akan selesai dan bisa jadi catatan kriminal di mata pak Mochtar. Dengan catatan kriminal itu, aku bisa dianggap sebagai calon anak durhaka yang tak menghargai bahasa ibu sendiri.

Aku tak mau itu. Aku bukan anak durhaka. Lebih dari itu, aku sudah bertekad bahwa pada masa SMA ini, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh. Bergegas aku menuju meja belajar. Secarik kertas folio bergaris dan pena pun segera kuraih dari dalam tas. Sekitar lima sampai sepuluh menit pertama kupacu otakku untuk berpikir keras. Semacam pemanasan. Namun pikiranku justru hanya lari di tempat. Aku tetap belum tahu apa yang akan aku tuliskan. Mengetahui cita-cita memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.Tak cukup hanya dengan memutar otak.

Dalam ketermenungan yang membingungkan itu, aku coba mencari-cari apa minat dan bakatku. Aku ingat, dulu sewaktu duduk dibangku SD, aku pernah menjadi juara lomba makan kerupuk dan lari kelereng pada peringatan 17 Agustus. Apa ini artinya aku berbakat dalam hal makan-memakan dan berlari? Ah, segera aku menampiknya. Itu bukan bakat khusus. Toh, soal makan, Budi, tetangga sebelah rumah yang seusia denganku, jauh lebih jago. Ia bisa memakan sebakul nasi dan setoples kerupuk dalam waktu kurang dari tiga jam. Urusan lari pun aku masih kalah dengan Lukman, teman kecilku yang larinya macam kijang itu. Kala menjad ijuara lari kelereng, sebenarnya aku beruntung karena waktu itu Lukman tak ikut karena sakit.

Pikiranku kemudian beralih pada nilai-nilai dalam pelajaran sekolah saat SD dan SMP. Untuk matematika dan ilmu eksakta aku tak bisa dikatakan sukses. Nilaiku untuk mata pelajaran itu pas-pasan. Aku tak pernah benar-benar paham angka dan rumus-rumus. Apa yang membuatku tak memahami angka dan rumus-rumus itu adalah karena mereka tak punya wajah. Tak hidup. Namun bukan berarti aku tak bisa hitung menghitung. Soal ini aku masih jago sampai kelas tiga SD. Mungkin karena waktu itu matematika masih mirip ilmu dagang. Dan, sepertinya ini memang bakat warisan keluarga yang kebetulan jadi pedagang. Ini juga terbukti juga saat SMP dengan nilai ekonomi yang cukup untuk membuat dadaku terbusung di depan orang tua. Ya, mungkin inilah salah satu bakatku. Tapi apakah aku benar-benar berminat? Aku jadi berpikir ulang. Soalnya, nilai ekonomiku hanya bagus sampai kelas satu SMP saja. Setelahnya, nilai itu turun satu sampai dua tingkat di bawahnya.

Di luar itu semua, sebenarnya aku berminat dan bisa dikatakan berbakat dengan kesenian. Tepatnya menggambar. Aku ingat bagaimana sewaktu SD, guru kesenian selalu memuji gambar-gambar yang kubuat.Guru Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) juga pernah mengapresiasi gambar peta Indonesia bikinanku dengan nilai sempurna. Peta itu kini terpajang di dinding kamarku. Saat ini aku sedang memandanginya kembali. Akan tetapi buru-buru aku ingat pada ketidaksukaan Ayah dengan hobi menggambarku. Menurutnya, keterampilan menggambar hanya akan menjadikanku tukang variasi mobil yang pekerjaannya melukis bak-bak truk pengangkut pasir atau bus-bus angkutan umum dengan gambar atau lukisan yang tidak seronok. Menyadari ini gambaran akan minat dan bakatku hilang melayang, terbang seperti kumbang meninggalkan kembang- kembang.

Seketika pikiranku kosong kembali. Namun pelan-pelan, pikiran itu kembali digenangi oleh ingatan akan teman-karibku. Ada Firman yang kemarin kutemui di pasar sewaktu mengantar ibu. Saat ngobrol, Firman mengaku tak benar-benartahu apa cita-citanya. Tapi dengan tegas ia mengatakan bahwa saat ini yang ia inginkan adalah menjadi pacar si Yuni, teman sekelasnya. Ah, itu sih bukancita-cita namanya melainkan cita-cinta! Ada juga Wati yang berkata memiliki mimpi menjadi peragawati supaya bisa punya banyak pakaian dan busana yang bagus-lucu. Sayang, ia berkata bahwa ia tak mungkin meraih mimpinya itu karena tinggi badannya hanya 150 cm. Wati pun tak tahu apa lagi cita-cita yang ingin direngkuhnya. Ia tak punya gambaran lain. Lain Firman dan Wati, lain pula Dedek yang putus sekolah setelah lulus SD dan kini jadi tukang parkir di pasar. Ketika ku temui dua hari yang lalu di pasar sewaktu menjemput mamak, panggilanku untuk ibu di rumah, Dedek mengaku bercita-cita memiliki sepeda motor. Aduh, itu bukan cita-cita namanya, itu keinginan yang sifatnya sesaat. Aku kira Dedek tak ada bedanya dengan Firman dan Wati, sama-sama tak punya gambaran. Bahkan Dedek dan Firman tak paham apa itu cita-cita. Soal ini aku bisa maklum pada Dedek karena ia memang lulusan sekolah dasar. Bagaimana dengan Firman? Aku kira cinta sudah mulai menggerogoti akal sehatnya.

Namun, bukankah aku juga tak punya gambaran akancita-cita? Sama dengan mereka. Akhirnya aku teringat Udin. Dan, benar juga apayang dikatakannya tiga hari yang lalu itu: “Tanpa peta, tak mungkin pelaut akan menemukan pulau baru, kehidupan baru.” Barangkali itulah yang sedikit memaksadan menjadikannya bersikap realistis. Pasrah menerima semua apa adanya. Ya,kini aku mengerti duduk perkara yang menjadikan kami; aku, Udin, Firman, Wati,dan Dedek tak punya cita-cita. Tak berani bermimpi. Persoalannya ialah karena kami tak punya peta: gambaran yang luas tentang cita-cita: pulau-pulau baru, kehidupan baru berikut arah yang harus ditempuh untuk menemukannya. Lantas apacita-citaku, mimpiku? Apakah aku juga akan bersikap pasrah seperti Udin?

“Tidak!” aku berseru dalam hati. Kalau aku pasrah, itu artinya pekerjaan rumah ini tak akan kukerjakan. Aku menyerah. Aku tak berani bermimpi, bercita-cita. Aku akan menjadi binatang bukannya bintang sebagaimana dikatakan oleh Pak Mochtar. Aku benar-benar ayam! Seketika pikiranku tegang. Aku rasai tubuhku sedikir bergetar. Mataku juga, yang biasanya dikatakan layu seperti mengantuk, menjadi terbuka lebih lebar. Pandangku tertuju pada peta Indonesia di hadapanku yang terpajang di tembok.Tatapanku benar-benar tertambat pada gambar yang kubuat sewaktu SD itu layaknya paku yang tertancap di tembok. Gambar itu kemudian seperti menyeretku masuk kedalamnya. Memaksaku mengarungi luasnya samudera biru yang menghubungkan satu pulau dengan lainnya. Ya, aku menjadi pelaut! Akan kuajak serta teman-karibku semua: Udin, Firman, Wati, Dedek juga lainnya! Dengan gambar itu, peta itu!

***

Pak Mochtar berdiri menghadap murid-murid di depankelas. Ia menggenggam tiga puluh lima kertas yang berisi cerita tentang cita-cita tiap siswa-siswinya. Ia memperhatikannya dengan seksama satu persatu. Sementara itu, murid-murid tampak acuh tak acuh. Ada yang sibuk ngobrol dengan teman sebangkunya. Ada yang tidur-tidur ayam. Ada juga yang sibuk membuat coretan.

“Berhubung ini masih bisa dikatakan sebagai masa awal, saya tidak akan langsung masuk ke materi pelajaran. Saya ingin kalian maju satu persatu sambil mempresentasikan, membacakan cita-cita kalian. Bagaimana setuju?” Pak Mochtar berkata dengan suaranya yang tak lagi parau. Ia sudah sembuh dari flu. Suaranya pun terdengar tegas dan lugas.

Kelas mendadak tenang. Pertanyaan itu tak berbalas. Tak ada satu pun yang menyahut. Ini memang hal yang biasa terjadi. Semuanya pasif. Begitu pula denganku. Saat-saat seperti ini rasanya mulut jadi berbulu domba: tak berkata tapi menolak di dalam hati.

“Baiklah. Karena kalian diam, itu artinya kalian cenderung mengiyakan. Setuju tapi malu-malu. Kalau begitu, saya akan tunjuk yang pertama maju. Tidak seperti biasanya yang urut absen atau abjad. Baiklah,yang pertama ialah Salman Himawan dengan cita-cita menjadi pembuat peta: peta cita-cita!”

Jantungku berdebar tak karuan. Rasa-rasanya aku jadi narapidana yang akan dieksekusi hukuman mati. Aku tak bisa menolak. Tak punya pembelaan lagi. Sekujur tubuhku bergetar. Langkah kakiku terasa berat. Seragam sekolah yang masih baru itu pun tampak basah oleh hujan keringat yang cukup lebat! Beginikah rasanya orang yang punya cita-cita?

Di mana saya?

Anda sedang menelusuri kategori Cerpen pada Penikmat Hidup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.